ALINEAZONA – Tim Pengabdian Internasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) memberikan pembekalan kepada fasilitator Children Class (CC) Saijo, Jepang, melalui pelatihan daring yang dilaksanakan pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini menjadi tahap awal pendampingan fasilitator dalam mengembangkan pembelajaran bagi anak-anak diaspora Indonesia di Jepang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Abdimas Trunodjoyo International Community Service Scheme 2026 melalui program bertajuk “Pendampingan Fasilitator CC untuk Penguatan Karakter Kebangsaan melalui Cerita Anak Islami Berbasis Budaya Madura bagi Anak Diaspora di Saijo, Jepang.”
Children Class Saijo merupakan wadah belajar Al-Qur’an dan agama Islam bagi anak-anak Muslim Indonesia di wilayah Higashihiroshima, Jepang. Aktivitas pembelajaran dan kegiatan komunitas ini turut dibagikan melalui akun Instagram @cc.saijo. Melalui kolaborasi dengan tim pengabdian FKIP UTM, pembelajaran di CC juga dikembangkan sebagai ruang untuk mengenalkan budaya dan identitas Indonesia kepada anak-anak diaspora.
Tim pengabdian diketuai oleh Siti Eneng Sururiyatul Mu’aziyah, S.P., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan IPA FKIP UTM, dengan anggota Wulan Ambarwati, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi PGSD dan Maria Chandra Sutarja, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan IPA. Kegiatan ini juga melibatkan Asna Rahma Auliya, mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA.
Dalam pelatihan daring tersebut, fasilitator CC memperoleh tiga materi yang saling berkaitan, yaitu pengenalan karakter kebangsaan melalui budaya Madura, pelatihan penggunaan media cerita dalam pembelajaran, serta pemanfaatan Wordwall sebagai media evaluasi pembelajaran.
Pada sesi pengenalan budaya Madura, fasilitator diajak melihat bahwa budaya tidak hanya dapat dikenalkan sebagai tradisi, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai dalam pembelajaran anak. Sejumlah budaya Madura, seperti Tajhin Peddis, Karapan Sapi, Pè-Sapèan, Sape Sono’, dan Saronen, diperkenalkan bersama nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, antara lain kebersamaan, gotong royong, berbagi, silaturahmi, dan rasa syukur.
Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan media cerita anak Islami berbasis budaya Madura. Tim pengabdian memperkenalkan buku “Tarik, Tiup, dan Berbagi! Serunya Mengenal Budaya Madura bersama Raka dan Sahabat” beserta strategi penggunaannya dalam pembelajaran. Strategi seperti tebak tokoh dan kartu kejadian diperkenalkan untuk mendorong keterlibatan anak selama kegiatan bercerita. Rangkaian pelatihan juga dilengkapi dengan pengenalan Wordwall sebagai salah satu alternatif media evaluasi pembelajaran yang interaktif.
Ketua Children Class Saijo, Bariq Ghazala, mengapresiasi rangkaian pelatihan yang diberikan oleh tim Universitas Trunodjoyo Madura. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai yang terdapat dalam budaya Madura dan potensinya untuk dikenalkan kepada anak-anak diaspora.
“Pengenalan budaya Madura mengenalkan kepada kami tentang makna filosofis dan kebudayaan dalam budaya Madura. Salah satu makanan khas yang dikenalkan, yaitu Tajhin Peddis, rupanya memiliki latar belakang menarik dan memuat nilai-nilai mulia seperti syukur, silaturahmi, dan gotong royong. Kami berharap kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi sarana penguatan identitas anak-anak diaspora di Jepang dan belahan bumi lainnya,” ujar Bariq.
Menurut Bariq, media cerita anak Islami berbasis budaya Madura juga memberikan pendekatan yang menarik karena nilai keislaman, karakter, dan budaya dapat disampaikan secara bersamaan melalui dunia yang dekat dengan anak, yaitu cerita. Sementara itu, Wordwall memberikan alternatif aktivitas yang lebih interaktif dan menyenangkan.
“Harapan kami, pelatihan ini dapat benar-benar diterapkan nantinya sehingga pembelajaran di CC semakin kreatif dan terus menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Islam dan Indonesia,” tambahnya.
Respons positif juga disampaikan oleh Muhammad Azzam Alwan dari Tim Kurikulum Children Class. Menurutnya, pelatihan memberikan berbagai informasi baru mengenai budaya Madura sekaligus cara menyampaikannya kepada anak dengan menarik dan menyenangkan.
“Alhamdulillah, setelah acara kami mendapatkan berbagai informasi baru terkait budaya Madura dan bagaimana menyampaikan hal tersebut kepada anak-anak dengan cara yang menarik dan menyenangkan, seperti tebak tokoh dan kartu kejadian. Apa yang diperoleh nantinya akan dicoba diaplikasikan di kelas dan diterapkan bukan hanya untuk pengenalan budaya Madura saja, tetapi juga diselipkan dengan nilai-nilai yang sesuai dengan nilai Islam, seperti buku yang dibuat oleh tim UTM yang mengenalkan Asmaul Husna melalui cerita berlatar budaya Madura,” tutur Azzam.
Pelatihan daring ini merupakan tahap awal dari rangkaian pendampingan fasilitator CC. Program pengabdian akan dilanjutkan padan Oktober-November 2026 melalui praktik dan pendampingan. Pada tahap tersebut, fasilitator akan mengimplementasikan kegiatan pembelajaran bersama anak-anak CC dengan pendampingan tim pengabdian FKIP UTM.
Melalui rangkaian pendampingan tersebut, kolaborasi FKIP UTM dan Children Class Saijo diharapkan tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi berlanjut hingga penerapannya dalam kegiatan pembelajaran. Pendampingan ini diharapkan dapat mendukung pembelajaran yang semakin kreatif dan menyenangkan sekaligus menjadi ruang bagi anak-anak diaspora untuk terus mengenal nilai-nilai Islam, budaya, dan identitas Indonesia.
