Author: Nuraida Ameliana Putri
ALINEAZONA – Pagi ini rupiah kembali melemah. Pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, nilai tukar rupiah turun sekitar 57 poin dan berada di level Rp17.858 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini bukan sekadar perubahan biasa, tetapi menjadi tanda bahwa kepercayaan pasar terhadap rupiah sedang menghadapi ujian besar.
Penyebab utamanya datang dari situasi global, terutama konflik di Timur Tengah. Menurut laporan Reuters, Amerika Serikat kembali melakukan serangan militer ke Iran dengan menargetkan fasilitas pertahanan penting di Teheran. Situasi ini membuat proses perdamaian yang sudah berjalan berbulan-bulan menjadi terhambat.
Ketika kondisi dunia tidak pasti, para investor memilih memindahkan uang mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Salah satu pilihan utama adalah dolar AS. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan nilainya menguat, sementara mata uang negara lain, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bahwa meningkatnya konflik di Timur Tengah ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global. Kondisi inilah yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat.
Untuk menjaga kestabilan, Bank Indonesia (BI) sudah mengambil langkah dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada rapat pertengahan Mei lalu. Tujuannya adalah menahan keluarnya modal asing dan menjaga agar rupiah tidak terus melemah. Namun hingga saat ini, dampak kebijakan tersebut belum terasa sepenuhnya.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, juga mengungkapkan bahwa cadangan devisa Indonesia sempat turun karena BI melakukan intervensi di pasar untuk menjaga rupiah. Meski begitu, Perry tetap optimistis bahwa pelemahan ini hanya sementara. Menurutnya, nilai rupiah yang sesuai dengan kondisi ekonomi Indonesia seharusnya berada di kisaran Rp16.200-Rp16.800 per dolar AS, dan ia yakin rupiah bisa kembali menguat ke level tersebut pada akhir tahun.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Dari dalam negeri, sebagian investor masih berhati-hati terhadap beberapa kebijakan ekonomi pemerintah. Salah satunya adalah wacana ekspor komoditas satu pintu yang diumumkan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu. Sebagian pelaku pasar khawatir kebijakan tersebut bisa memengaruhi kepercayaan investor dan penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap Indonesia.
Selain itu, pelemahan rupiah juga membuat biaya impor semakin mahal. Bahan baku industri yang banyak didatangkan dari luar negeri menjadi lebih expensive, ditambah kenaikan harga BBM nonsubsidi yang membuat biaya produksi ikut meningkat. Jika kondisi ini berlangsung lama, harga barang di masyarakat juga bisa ikut terdampak.
Di bank-bank besar, kurs dolar pun sudah bergerak naik. BCA menjual dolar di sekitar Rp17.850, BRI sekitar Rp17.890, sementara Bank Mandiri menawarkan special rate di kisaran Rp17.770. Artinya, bagi masyarakat yang ingin membeli dolar, bepergian ke luar negeri, atau mengirim uang ke luar negeri, biaya yang harus dikeluarkan saat ini menjadi lebih mahal.
Lalu, apakah rupiah akan terus melemah? Jawabannya masih bergantung pada perkembangan situasi global dan kondisi ekonomi dalam negeri. Selama konflik AS-Iran belum mereda dan kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih, tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan berlanjut. Meski begitu, Bank Indonesia tetap meyakini bahwa kondisi ini hanya sementara dan rupiah perlahan bisa kembali stabil.
