Author: Nurul Mukhovivin
BANGKALAN, ALINEAZONA— Kabar membanggakan datang dari keluarga besar KOPI ALINEA. Lima peneliti muda berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan menembus publikasi ilmiah bereputasi internasional terindeks Scopus melalui jurnal Asian Journal of Arts and Culture. Mereka adalah Raudatul Jannah, Farian Dito Irwanda, Irodatul Bahriyah, Lisda Yasin Bakari, dan Alfiyah Nur Andini.
Karya ilmiah yang mereka tulis berjudul “Exploring the Power of Critique in Poetry: A Comparative Study of Literary Authors and Artificial Intelligence Through Lexical and Referential Semantic Analysis.” Penelitian ini mengangkat perbandingan antara kritik puisi karya manusia dan AI melalui pendekatan semantik, khususnya pada aspek makna leksikal dan referensial.
Salah satu anggota tim, Irodatul Bahriyah, mengungkapkan bahwa ketertarikan mereka pada topik ini berawal dari fenomena pesatnya perkembangan AI yang kini mampu menghasilkan karya sastra hanya dengan satu perintah. Namun, tim peneliti ingin membuktikan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara karya yang dihasilkan manusia dan AI.
“AI memang bisa menciptakan puisi dengan struktur yang rapi, tetapi pilihan katanya cenderung umum dan terkadang kurang relevan secara makna. Sementara manusia menciptakan karya dengan rasa, pengalaman, dan kepekaan terhadap realitas sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa karya-karya penyair seperti W.S. Rendra, Wiji Thukul, dan Gus Mus menunjukkan kedalaman kritik yang lebih tajam karena lahir dari pengalaman nyata, termasuk kondisi sosial-politik dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi pembeda utama dengan puisi buatan AI seperti Gemini, Perplexity, maupun ChatGPT.
Penelitian ini sekaligus menjadi refleksi bahwa di tengah kemajuan teknologi, peran manusia sebagai pencipta karya yang autentik tetap tidak tergantikan. Tim peneliti juga ingin mengajak mahasiswa dan pelajar untuk terus berkarya dan tidak sepenuhnya bergantung pada AI.
Proses publikasi jurnal ini memakan waktu sekitar lima bulan, dimulai dari Maret hingga Juli. Dalam perjalanannya, tim menghadapi berbagai tantangan, terutama pada tahap revisi dari reviewer. “Bagian yang paling menantang adalah saat menerjemahkan puisi ke dalam bahasa Inggris. Bahasa puisi itu penuh dengan makna kias dan puitisasi, sehingga ketika diterjemahkan sering kali maknanya berubah,” jelas Ira.
Meski demikian, kerja keras dan kolaborasi tim akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Publikasi ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Ira dalam menembus jurnal internasional bereputasi.
Ia mengaku tidak memiliki satu rumusan pasti terkait kunci keberhasilan publikasi internasional, namun menekankan pentingnya menikmati proses menulis. “Anggap menulis itu sesuatu yang menyenangkan, lakukan dengan sungguh-sungguh, dan terus berusaha membuat tulisan yang layak dan berkualitas,” tuturnya.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga kontekstual dengan perkembangan zaman, sekaligus memberikan kontribusi pemikiran terhadap dinamika hubungan antara manusia dan teknologi dalam bidang sastra.
