BANGKALAN, ALINEAZONA — Upaya menumbuhkan kesadaran lingkungan dan minat siswa terhadap pertanian modern terus digalakkan oleh mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Melalui Program Asistensi Mengajar (ASMEN), lima mahasiswa yaitu Aisyah Noer Aulya, Karina Afsha Putri, Meisyka Rivani Kayla Achmad, Dita Anggraini, dan Oktya Putri Pratidina menginisiasi kegiatan bertema “Menanam Sayuran dengan Sistem Hidroponik Ramah Lingkungan” di SMPN 3 Bangkalan.
Kegiatan yang dimulai pada awal September 2025 ini berfokus pada pelatihan penanaman sayuran menggunakan sistem hidroponik sederhana. Para siswa diperkenalkan pada cara menyiapkan media tanam seperti rockwool, menyemai bibit, hingga merawat tanaman tanpa menggunakan tanah. Sistem hidroponik dipilih karena lebih efisien, hemat air, serta mudah diterapkan di lingkungan sekolah dengan lahan terbatas.
Puncak kegiatan berupa panen sayuran hidroponik dilaksanakan pada Kamis, 20 November 2025. Momen panen menjadi pengalaman berkesan bagi para siswa karena mereka dapat melihat secara langsung hasil dari proses yang mereka jalani sejak awal. Suasana panen berlangsung antusias; siswa tampak bangga dan termotivasi ketika menyaksikan tanaman yang mereka rawat tumbuh subur dan siap dipanen.
Selain memberikan keterampilan bercocok tanam, program ini juga menanamkan nilai tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa dilibatkan mulai dari pengelolaan instalasi hidroponik, perawatan tanaman, hingga proses panen, sehingga mereka belajar bahwa budidaya tanaman memerlukan komitmen dan konsistensi.
Program ini dibimbing oleh dosen pendamping UTM, Ibu Wiwin Puspita Hadi, S.Si., M.Pd., serta guru pamong mata pelajaran IPA SMPN 3 Bangkalan, Ibu Chonimatul Wasi’ah, S.Pd., dengan dukungan penuh dari pihak sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep pertumbuhan tanaman dalam pelajaran IPA, tetapi juga mampu menerapkan praktik pertanian berkelanjutan di lingkungan sekitar. Ke depan, kegiatan hidroponik ini direncanakan menjadi proyek berkelanjutan sekolah sebagai bagian dari gerakan peduli lingkungan dan kemandirian pangan di SMPN 3 Bangkalan.
Sebagai ketua pelaksana, Aisyah Noer Aulya menilai bahwa rangkaian program kerja hidroponik di SMPN 3 Bangkalan secara umum berjalan efektif dan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Ia melihat antusiasme peserta sejak tahap awal hingga pemanenan.
Menurut Aisyah, “Saya menilai bahwa program kerja hidroponik ini berjalan cukup efektif, terutama pada tahap sosialisasi penanaman dan sosialisasi pemanenan. Peserta terlihat antusias mempelajari teknik budidaya tanaman tanpa tanah dan memahami manfaatnya. Meski terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan alat dan waktu, kegiatan tetap dapat terlaksana sesuai rencana. Saya berharap program ini bisa menjadi kegiatan berkelanjutan dan memberi dampak positif bagi pengetahuan serta keterampilan peserta.”
Melalui pengalamannya memimpin program ini, Aisyah berharap inisiatif serupa dapat terus dikembangkan sebagai sarana pembelajaran kontekstual di sekolah.
Pengalaman lapangan juga dirasakan langsung oleh Karina Afsha Putri. Ia menyoroti bahwa siswa sangat menikmati bagian praktik, terutama saat menyiapkan nutrisi dan menanam sayuran sendiri. Bagi Karina, keterlibatan langsung inilah yang membuat materi lebih mudah dicerna.
Ia mengungkapkan, “Menurut saya, sosialisasi penanaman hidroponik memberikan pengalaman baru yang menarik. Peserta dapat langsung mempraktikkan cara menyiapkan larutan nutrisi dan menanam sayuran. Hal ini membuat proses pembelajaran lebih mudah dipahami dan menyenangkan.” Karina menilai, kegiatan semacam ini dapat menjadi contoh bagaimana pembelajaran IPA bisa dikemas secara aplikatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari sisi hasil, Dita Anggraini memberikan perhatian khusus pada tahap pemanenan yang menjadi momen puncak bagi siswa. Melihat proses dari awal hingga panen dinilai menjadi pengalaman utuh yang memperkuat pemahaman mereka tentang siklus budidaya tanaman.
Dita menjelaskan, “Sosialisasi pemanenan berjalan dengan baik. Peserta dapat melihat hasil tanaman yang mereka rawat sejak awal, sehingga muncul rasa tanggung jawab dan kepuasan. Kegiatan ini juga membantu peserta memahami siklus budidaya secara lengkap.”
Baginya, rasa bangga siswa terhadap hasil panen menjadi indikator bahwa pembelajaran tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga menyentuh aspek karakter dan kebermaknaan belajar.
Dari sisi koordinasi dan manajemen kegiatan, Oktya Putri Pratidina menilai kerja sama antarpanitia sudah terbangun dengan baik, meskipun tetap ada penyesuaian di lapangan. Fleksibilitas menjadi kunci agar program tetap berjalan lancar mengikuti dinamika jadwal sekolah.
Ia menyampaikan, “Selama kegiatan berlangsung, koordinasi antar panitia cukup baik, meskipun ada beberapa penyesuaian jadwal. Namun secara keseluruhan, program kerja ini dapat meningkatkan pengetahuan peserta tentang hidroponik dan manfaatnya bagi lingkungan.”
Oktya berharap, pengalaman mengelola program ini dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa maupun sekolah dalam mengembangkan kegiatan serupa di masa mendatang.
Sementara itu, Meisyka Rivani Kayla Achmad menegaskan pentingnya menggabungkan teori dan praktik dalam satu rangkaian pembelajaran. Menurutnya, siswa menjadi lebih mudah memahami konsep jika diberi kesempatan belajar sambil melakukan.
Meisyka mengungkapkan, “Saya merasa kegiatan ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik langsung. Peserta menjadi lebih paham tentang cara menanam dan memanen secara hidroponik. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat lebih sering dilakukan.” Ia melihat potensi besar kegiatan hidroponik untuk dikembangkan sebagai proyek berkelanjutan yang tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap isu ketahanan pangan dan lingkungan.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan hidroponik ini, mahasiswa ASMEN UTM berharap kolaborasi antara kampus dan sekolah dapat terus terjalin kuat, terutama dalam menghadirkan praktik pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan era modern. Penerapan sistem hidroponik di SMPN 3 Bangkalan menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna, menumbuhkan kecintaan siswa terhadap lingkungan, sekaligus melatih mereka untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab. Melalui program seperti ini, semangat generasi muda untuk berkontribusi pada ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan diharapkan semakin tumbuh dan menginspirasi sekolah-sekolah lain di Madura.
