BANGKALAN, ALINEAZONA – Suasana belajar yang berbeda terasa di SMPN 6 Bangkalan ketika sekelompok mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melaksanakan program pengabdian yang memadukan edukasi pangan sehat dengan revitalisasi ruang hijau sekolah. Sejak akhir Oktober hingga pertengahan November 2025, empat mahasiswa Namimatus Zahroh, Radina Ekasiwi, Ainun Hafidzoh, dan Reynafi Arini Putri hadir membawa semangat baru untuk menjadikan pembelajaran IPA lebih dekat, lebih nyata, dan lebih bermakna bagi murid.
Kegiatan yang berjalan selama hampir tiga pekan itu mengusung dua fokus utama: pelatihan bioteknologi yoghurt untuk murid kelas VII, serta pengembangan Kebun Tanaman Obat dan Sayuran (TOSA) untuk murid kelas VIII. Kedua kegiatan terlaksana berkat dukungan guru pamong, Ibu Rica Diana Sofa, S.Pd., dan dosen pendamping lapangan, Ibu Maria Chandra Sutarja, S.Pd., M.Pd., yang menyambut baik upaya mahasiswa dalam membawa pembelajaran IPA keluar dari batas-batas ruang kelas.
Pelatihan yoghurt bermula dari kebutuhan untuk memperkenalkan konsep bioteknologi dan gizi secara praktis. Murid dinilai masih membutuhkan kegiatan yang dapat membantu mereka memahami bagaimana proses fermentasi bekerja dan bagaimana pilihan makanan sehat dapat dibuat dengan cara yang sederhana. Dalam tiga pertemuan, murid diajak menelusuri perjalanan yoghurt mulai dari teori, praktik pembuatan, hingga proses kreatif mengolahnya menjadi beragam produk rasa buah dan susu. Pada akhir rangkaian, mereka menggelar mini-expo kecil-kecilan, memamerkan hasil olahan sambil menjelaskan manfaat gizi dari kombinasi bahan yang mereka pilih. Salah satu murid kelas VII mengaku kegiatan ini membuat mereka “lebih paham bagaimana makanan sehat dibuat dan apa saja manfaatnya untuk tubuh.”
Pada saat pelatihan yoghurt masih menyisakan antusiasme murid, mahasiswa mulai mengerjakan program kedua menghidupkan lahan kosong sekolah menjadi Kebun TOSA. Dari hasil observasi, ditemukan adanya area sekolah yang belum dimanfaatkan maksimal dan minim tanaman yang dapat dijadikan objek pembelajaran. Kehadiran kebun ini diharapkan menjadi ruang praktik yang memperkaya pengalaman murid sekaligus membantu mereka mengamati tumbuhan secara langsung.
Kegiatan tersebut berlangsung melalui dua pertemuan. Pertemuan pertama diisi dengan pengenalan konsep Kebun TOSA, jenis-jenis tanaman obat, sayuran, dan tanaman aromatik, serta manfaatnya bagi kesehatan. Pertemuan berikutnya menjadi sesi kerja bersama, ketika murid dan mahasiswa membersihkan lahan, menata tanah, dan menanam berbagai jenis tanaman. Kebun yang semula kosong perlahan berubah menjadi ruang hijau yang mulai hidup.
Salah satu hal menarik dalam pengembangan kebun ini adalah penggunaan botol plastik bekas sebagai pot dan hiasan. Botol-botol tersebut dicat putih dan biru, menghadirkan sentuhan estetis sekaligus menyampaikan pesan tentang praktik daur ulang. Gagasan itu muncul setelah mahasiswa menemukan banyak tumpukan sampah botol minuman di lingkungan sekolah sebuah potret kecil dari kebiasaan harian murid yang kemudian diolah menjadi bahan edukasi lingkungan.
Namimatus Zahroh, ketua kelompok, menekankan nilai penting di balik penggunaan botol bekas tersebut. “Kami ingin menunjukkan bahwa bahan yang dianggap tidak berguna pun bisa diubah menjadi media yang memperindah dan mendukung kebun sekolah. Memanfaatkan botol bekas tidak hanya memperindah kebun, tetapi juga mengajak murid melihat bahwa limbah sederhana dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna,” ujarnya.
Radina Ekasiwi menyampaikan bahwa penggunaan botol bekas juga berkaitan dengan pembentukan kebiasaan berpikir kritis. “Penggunaan botol bekas di kebun sekolah bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga soal kebiasaan berpikir kritis dan peduli lingkungan. Ketika murid melihat langsung bahwa barang sederhana bisa dimanfaatkan kembali, mereka belajar bahwa solusi itu sering ada di sekitar kita. Ini hal kecil, tapi dampaknya besar bagi cara mereka memandang lingkungan,” ungkapnya.
Ainun Hafidzoh menambahkan bahwa kreativitas dalam pemanfaatan botol plastik turut memperkuat fungsi edukatif Kebun TOSA. “Pemanfaatan botol plastik sebagai hiasan atau ornamen tidak hanya memperindah taman, tetapi juga membantu menjaga tanaman agar tertata rapi dan mudah dirawat. Murid belajar memahami bahwa keindahan taman tidak hanya berasal dari tanamannya saja tetapi juga dari cara kreatif merawat dan memanfaatkan benda yang ada di lingkungan sekitar.”
Sementara itu, Reynafi Arini Putri melihat kedua kegiatan ini sebagai satu rangkaian pembelajaran yang saling melengkapi. “Kegiatan pelatihan yoghurt dan pengembangan Kebun TOSA bukan hanya meningkatkan pemahaman murid tentang IPA, tetapi juga membentuk kebiasaan positif yang mungkin tidak akan muncul jika pembelajaran hanya dilakukan di kelas. Yang saya lihat, dua kegiatan ini menekankan bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Murid tidak hanya belajar teori fermentasi atau jenis tanaman, tetapi benar-benar mengalami prosesnya, melihat hasilnya, dan memahami manfaatnya.”
Guru pamong, Ibu Rica Diana Sofa, S.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme murid selama kegiatan berlangsung. Ia menilai pengalaman langsung melalui praktik membuat yoghurt dan kegiatan merawat tanaman membuat murid lebih aktif dan lebih mudah memahami konsep IPA. “Anak-anak terlihat jauh lebih antusias karena mereka bisa menyentuh, mencoba, dan melihat langsung prosesnya. Kegiatan seperti ini memang dibutuhkan sekolah untuk membantu murid memahami materi dengan cara yang lebih nyata. Kegiatan ini berpotensi memperkuat kebiasaan positif murid serta membantu sekolah dalam mengembangkan inisiatif berkelanjutan di bidang kesehatan dan lingkungan,” ujarnya.
Murid kelas VII dan VIII pun memberikan respons serupa. Mereka mengaku senang dapat belajar IPA melalui aktivitas langsung, mulai dari memahami proses fermentasi melalui pembuatan yoghurt hingga merawat tanaman yang mereka tanam sendiri. Kebun TOSA yang baru ditanami itu kini menjadi ruang yang mereka kunjungi bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk merawat.
Melalui perjalanan kegiatan ini, mahasiswa berharap bahwa pengalaman belajar berbasis praktik dapat memperkuat minat murid terhadap IPA dan membantu sekolah menghadirkan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran. Selain itu, inisiatif ini diharapkan mampu membangun kesadaran murid mengenai pentingnya pengolahan pangan sehat dan pemeliharaan ruang hijau sekolah. Upaya kolaboratif antara mahasiswa dan sekolah ini menjadi langkah untuk menghidupkan suasana belajar yang lebih kontekstual, hidup, dan dekat dengan keseharian murid. Di ruang kelas, di kebun kecil, dan di tangan-tangan yang belajar merawat, tumbuh keyakinan bahwa pendidikan yang bermakna dapat dimulai dari praktik sederhana yang dilakukan bersama.
