BANGKALAN, ALINEAZONA – Di sudut sekolah yang selama ini terlewati, berdiri sebuah instalasi hidroponik yang dulunya pernah hidup, lalu perlahan meredup, dan akhirnya membeku menjadi ornamen tanpa fungsi. Namun pada akhir semester ini, sistem itu kembali bernapas. Warna hijau muncul lagi, aliran air bergerak kembali, dan wajah-wajah murid terpancar antusiasme baru. Semua itu berawal dari langkah kecil sekelompok mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang ingin menghidupkan kembali ruang belajar yang hampir dilupakan.
Program revitalisasi hidroponik di MTsN Bangkalan tersebut dijalankan oleh Anggun Putri Nusantari, Sinta Dwi Ningrum, Iftinaniyah, Rafita Delta Maskara Nusa, dan Durotun Nasichah, dengan dukungan penuh dari guru pamong Hj. Alfiyah, S.Pd. dan Trimaryuni, S.Pd., serta pendampingan akademik dari Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Fatimatul Munawaroh, S.Si., M.Si. Tidak hanya bekerja sendiri, mahasiswa juga menggandeng Bapak Miftahol Arifin dan beberapa murid dari kelas VIII-I sebagai mitra lapangan membentuk kolaborasi kecil yang menjadi inti dari hidupnya kembali sistem hidroponik di sekolah ini.
Awalnya, hidroponik yang sempat dibangun beberapa tahun lalu tidak lagi berfungsi. Pipa-pipa tersumbat, nutrisi tidak mengalir, media tanam mengering, dan tanaman yang dulu tumbuh subur sudah lama hilang. Bagi banyak orang, instalasi itu mungkin hanya tinggal kenangan. Tetapi bagi para mahasiswa, itu adalah ruang belajar yang menunggu untuk dipulihkan.
Mereka mulai dari nol: mengecek aliran pompa, membersihkan pipa, menata ulang netpot, mengganti media tanam, menyiapkan larutan nutrisi, hingga menanam kembali bibit-bibit sayuran. Setiap tahap dilakukan sambil melibatkan murid, membangun kembali keterhubungan antara sains dan praktik yang sesungguhnya.
Untuk membantu siswa memahami konsep hidroponik secara lebih mudah, tim mahasiswa juga menyusun poster edukatif yang dipasang di sekitar area instalasi. Poster tersebut berisi penjelasan sederhana tentang apa itu hidroponik, bagaimana sistem bekerja, manfaatnya bagi lingkungan dan kesehatan, serta langkah-langkah perawatan yang bisa dilakukan murid. Dengan cara ini, hidroponik tidak hanya hadir sebagai instalasi fisik, tetapi juga sebagai media belajar visual yang terus “berbicara” kepada siapa pun yang melintas.
Hari demi hari, tanda-tanda kehidupan muncul. Daun-daun kecil mulai tumbuh, air yang stagnan berubah menjadi aliran jernih, dan siswa kembali berdiri di sekitar hidroponik kali ini bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai penjaga kehidupan baru. Poster-poster yang mereka baca membantu murid mengaitkan apa yang mereka lihat dengan konsep IPA yang selama ini dipelajari di kelas.
Guru pamong, Trimaryuni, S.Pd merasakan betul perubahan itu. “Program hidroponik yang kalian jalankan tidak hanya memberi warna baru bagi siswa, tetapi juga membuka wawasan tentang cara bercocok tanam yang lebih modern dan mudah dilakukan. Saya berkomitmen untuk melanjutkan pengelolaan hidroponik ini supaya berkembang dan menjadi media belajar yang hidup bagi anak-anak.”
Ia menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa asistensi mengajar menjadi angin segar bagi sekolah, membawa suasana belajar yang tidak hanya teoritis tetapi juga aplikatif. “Semoga apa yang sudah kalian mulai menjadi inspirasi bagi guru dan siswa untuk menjaga serta mengembangkannya,” ujarnya.
Bagi para mahasiswa, revitalisasi ini bukan sekadar proyek, tetapi perjalanan belajar yang memberi arti baru tentang mengabdi dan berdampak. “Melanjutkan proyek hidroponik merupakan pengalaman yang bukan hanya memperkaya pengetahuan kami, tetapi juga memberi kesempatan untuk berkontribusi langsung bagi lingkungan belajar siswa,” ungkap mereka dalam pernyataan kelompok.
Mereka berharap hidroponik yang telah hidup kembali ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. “Kami ingin hidroponik ini terus dirawat dan digunakan sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan. Semoga apa yang kami mulai dapat menjadi benih kecil yang tumbuh menjadi kegiatan sekolah yang berkelanjutan. Terima kasih kepada guru pamong, seluruh guru, dan para siswa yang telah menerima kami dengan hangat.”
Kini, setiap tangkai yang tumbuh dan setiap aliran air yang mengalir menjadi saksi bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Terkadang, cukup dari keberanian untuk menghidupkan sesuatu yang pernah terhenti. Hidroponik yang dulu menjadi ruang sunyi kini kembali menjadi laboratorium hidup tempat siswa belajar sains melalui sentuhan, pengamatan, poster-poster yang mereka baca, dan rasa ingin tahu yang terus tumbuh.
Kehadiran mahasiswa UTM di sekolah ini bukan hanya menghadirkan kembali sebuah instalasi, tetapi juga menghadirkan kembali harapan bahwa pembelajaran bisa tumbuh di mana saja, bahkan di sudut yang lama terlupakan. Dan di antara daun-daun muda yang baru tumbuh itu, tersimpan optimisme bahwa kebiasaan merawat lingkungan dan mencintai sains dapat tumbuh bersama generasi muda yang terus belajar.
