BANGKALAN, ALINEAZONA – Upaya membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar terus digencarkan oleh mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Melalui Program Asistensi Mengajar (ASMEN), tiga mahasiswa yakni Nanda Ferryna Kharismanti, Indana Zulfatul Ulya, dan Nawa Desynta Salshabilla, menginisiasi kegiatan pengabdian bertajuk “Mengubah Sampah Menjadi Kompos dan Pestisida Organik yang Ramah Lingkungan” di SMPN 4 Bangkalan.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 28 Oktober 2025 ini difokuskan pada pelatihan pengolahan sampah organik, termasuk sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi produk bermanfaat berupa kompos alami dan pestisida organik. Program tersebut dibimbing oleh Mochammad Ahied, S.Si., M.Si. selaku dosen pembimbing asistensi mengajar, serta mendapat dukungan penuh dari Sri Ismawati, S.Pd., M.Pd., guru pamong SMPN 4 Bangkalan.
Program ini lahir dari keprihatinan mahasiswa terhadap kondisi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah yang dinilai belum optimal. Berdasarkan observasi awal, sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan dari MBG masih bercampur dengan sampah anorganik dan belum dimanfaatkan secara produktif.
Melalui kegiatan edukatif ini, mahasiswa memberikan pembelajaran langsung kepada siswa kelas VIII B mengenai pentingnya memilah dan mengolah sampah agar bernilai guna. Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi interaktif melalui media PowerPoint yang menjelaskan definisi, manfaat, dan langkah-langkah pembuatan kompos serta pestisida alami.
Setelah sesi teori, siswa diajak praktik langsung membuat kompos dari dedaunan kering dan sisa makanan, serta meracik pestisida alami berbahan dasar kulit bawang putih dan bawang merah. Semua praktik dilakukan dengan peralatan sederhana di lingkungan sekolah, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Ketua kelompok pengabdian, Nanda Ferryna Kharismanti, menegaskan bahwa kegiatan ini membuktikan pembelajaran lingkungan dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan aplikatif. “Dengan praktik langsung membuat kompos dan pestisida alami, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Saya berpendapat bahwa kegiatan seperti ini penting diterapkan di sekolah-sekolah lain agar siswa lebih sadar lingkungan.,” ujar Nanda.
Sementara itu, Indana Zulfatul Ulya menyoroti antusiasme tinggi para siswa selama kegiatan berlangsung. “Mereka mulai memahami bahwa sampah bukan hanya limbah, tetapi bisa diubah menjadi sesuatu yang berguna. Dalam pandangan saya, kegiatan seperti ini menumbuhkan karakter peduli lingkungan sekaligus melatih kerja sama dan tanggung jawab sosial,” jelasnya.
Senada dengan itu, Nawa Desynta Salshabilla menekankan bahwa pengabdian masyarakat tidak harus berskala besar untuk memberikan dampak positif. “Mengubah sampah menjadi kompos sederhana saja sudah menunjukkan kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Guru pamong Sri Ismawati, S.Pd., M.Pd. turut menyampaikan apresiasi. “Kegiatan ini sangat positif karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk belajar mencintai lingkungan melalui tindakan nyata,” tuturnya.
Hasil dari kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Kompos dan pestisida organik yang dihasilkan akan digunakan untuk merawat taman sekolah, menjadikannya lebih asri sekaligus bebas hama tanpa bahan kimia berbahaya. Selain manfaat ekologis, kegiatan ini juga menanamkan nilai tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian lingkungan pada diri siswa.
Mahasiswa berharap, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Bangkalan untuk mengembangkan program serupa. Dengan semangat kolaborasi antara kampus dan sekolah, kegiatan Asistensi Mengajar ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana yang berdampak besar, dari tangan siswa untuk bumi yang lebih lestari.
Editor: Thoriqi F.
