Author: Ibnul Mubarok
ALINEAZONA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 melambat menjadi sekitar 5,4% dari 5,61% pada kuartal sebelumnya. Empat lembaga yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) seperti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kompak dalam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi periode April-Juni 2026 yang berada di kisaran 5,4%, dan di bawah ambang 5,6%.
Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61% secara tahunan. Hal ini disampaikan oleh Purbaya dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026 di Jakarta, Senin (3/8/2026). Ia menyampaikan bahwa:
“Kalau kami lihat prediksi semua empat lembaga, kelihatannya di bawah 5,6% untuk kuartal kedua, tapi enggak jauh dari 5,4% juga. Jadi melambat, tapi enggak parah-parah amat.”
Purbaya juga menjelaskan bahwa perlambatan pada kuartal II-2026 lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan struktural dalam negeri. Menurut Purbaya, perlambatan perekonomian lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal daripada persoalan struktural dalam negeri. Ketidakpastian perekonomian global, penurunan harga minyak mentah, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta keluarnya arus modal asing menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan.
Di sisi fiskal, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester I-2026 tercatat defisit sekitar Rp196,5 triliun, atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang menurut Kementerian Keuangan masih berada dalam batas terkendali.
Sebagai pembanding, proyeksi pemerintah ini tengah berada di atas estimasi Bank Dunia untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026, yang direvisi naik menjadi 5,0% pada laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 yang naik dari proyeksi April 2026 yang sempat dipangkas menjadi 4,7% akibat tekanan harga minyak dan sentimen risk-off global. Bank Dunia menyebut revisi ke atas tersebut mencerminkan kinerja ekonomi kuartal I yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya
Kesenjangan antara proyeksi pemerintah dan lembaga internasional ini bukan hal baru. Sebelumnya, pada bulan April 2026, Purbaya sempat memikirkan keras proyeksi Bank Dunia terhadap proyeksi Bank Dunia yang saat itu masih di angka 4,7%, dengan menyebut lembaga tersebut “salah hitung” dan meminta permintaan maaf jika harga minyak kembali normal. Meski kuartal II-2026 melambat, Purbaya kembali menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah kebijakan untuk mengakselerasi pertumbuhan pada semester II-2026, mencakup penguatan koordinasi dengan Bank Indonesia, penyaluran insentif fiskal, penjagaan kecukupan sistem likuiditas keuangan, perbaikan iklim investasi, hingga realisasi realisasi belanja negara.
Salah satu stimulus yang tengah disiapkan yaitu berupa insentif pembelian mobil dan sepeda motor listrik, yang rencananya akan diumumkan langsung oleh Presiden dalam waktu dekat. Purbaya juga menambahkan:
“Belanja pemerintah di semester II akan lebih lancar, terutama dibandingkan dengan triwulan kedua tahun ini.”
Pemerintah berharap dengan berbagai stimulus tersebut mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2026. “Kami prediksi di semester II ekonominya bisa tumbuh pulih ke arah 5,6% sampai 6%, dengan kerja keras tentunya,” ujar Purbaya.
