Author: Cindy Aulia
ALINEAZONA – Rabu, 12 Agustus 2026, langit di atas Indonesia tampak normal seperti biasanya terang benderang tanpa ada tanda-tanda kegelapan kosmik (BMKG). Namun, pemandangan berbeda justru terjadi di balik jutaan layar gawai masyarakat tanah air. Ruang digital kita mendadak riuh; jutaan pasang mata terpaku pada siaran langsung kanal NASA untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT) yang sedang melintasi wilayah Eropa dan Amerika Utara (BMKG).
Langkah antisipasi digital ini sejalan dengan imbauan BMKG. “Untuk masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total dapat mengikutinya melalui kanal resmi NASA,” kata Ayu dari (BMKG) di Jakarta pada Sabtu (8/8). Lewat arahan tersebut, kini menyaksikan keajaiban semesta dari jarak ribuan mil lewat resolusi tinggi tentu merupakan sebuah solusi digital yang cerdas dan inklusif. Namun, di balik antusiasme massal yang penuh dengan nuansa FOMO (kurang update) ini, terselip sebuah refleksi yang menampar muka kita: apakah kepasrahan menjadi penonton setia siaran asing ini adalah bukti bahwa literasi dan ekosistem sains domestik kita memang masih tertinggal jauh di belakang?
Di satu sisi, kita harus mengapresiasi keajaiban internet. Menonton gerhana secara real-time dari seberang samudra adalah bukti cerdasnya manusia memanfaatkan teknologi. Beberapa dekade lalu, menikmati keindahan kosmik di luar negeri adalah kemewahan eksklusif kaum elite dan ilmuwan bermodal besar yang mampu membeli tiket pesawat serta teleskop mahal. Namun hari ini, tembok pembatas geografis dan ekonomi itu runtuh di tangan algoritma digital. Hanya bermodalkan kuota internet, siapa saja dari pelajar di pelosok hingga pekerja yang terjebak macet bisa menikmati gerhana matahari super jernih lewat layar ponsel. Ini adalah wujud demokratisasi sains yang luar biasa. Gawai yang biasanya hanya dipakai untuk menggulir konten hiburan, mendadak menjelma menjadi laboratorium astronomi portabel yang inklusif. Teknologi sukses melipat jarak dunia dan mengubah fenomena alam yang jauh menjadi pengetahuan kolektif yang bisa diakses siapa saja.
Namun, mari kita melihat sisi sebaliknya yang agak getir. Di balik decak kagum kita pada siaran NASA, fenomena ini menjadi cermin retak ekosistem sains domestik kita. Kita begitu fasih menikmati produk digital milik asing, tetapi lupa bertanya: mengapa kita selalu nyaman menjadi penonton pasif? Mengapa instansi riset atau lembaga penyiaran publik kita belum mampu membangun narasi sains populer yang sama memikatnya untuk audiens lokal? Ketergantungan ini menunjukkan bahwa literasi sains di tanah air masih dianggap kalah seksi dibanding gosip artis atau drama politik harian. Kita terjebak dalam budaya ikut-ikutan fenomena alam, heboh berburu visual demi konten media sosial, tetapi sebenarnya kita kurang paham arti dan proses ilmiah dibaliknya. Ketertinggalan kita bukan lagi soal ketiadaan alat canggih, melainkan kegagalan mengemas sains menjadi sesuatu yang dekat dan mandiri. Selama kita hanya menumpang di lapak siaran asing, selama itu pula kita menegaskan posisi di dunia: hanya sebagai konsumen ilmu pengetahuan, bukan pemain. Lalu, apa langkah kita selanjutnya setelah riuh siara
