Foto bersama dalam rangka agenda pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen dan mahasiwa UTM bersama guru SMPN 1 Banyuates (Dok. Pendidikan IPA UTM)
Foto bersama dalam rangka agenda pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen dan mahasiwa UTM bersama guru SMPN 1 Banyuates (Dok. Pendidikan IPA UTM)
SAMPANG, ALINEAZONA – Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sering dianggap sulit dan abstrak kini terasa lebih hidup dan relevan bagi siswa SMPN 1 Banyuates, Sampang. Melalui program pengabdian masyarakat dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), konsep sains yang rumit berhasil diterjemahkan melalui fenomena sehari-hari seperti proses kristalisasi garam dan prinsip gaya apung pada perahu tradisional.
Kegiatan yang digelar pada Kamis (11/9/2025) ini mengusung tema “Integrasi Deep Learning dalam Pendidikan IPA Berbasis Potensi Lokal: Strategi Peningkatan Kemampuan Guru dan Siswa”. Pendekatan ini dirancang untuk menanamkan konsep sains secara mendalam dengan mengaitkannya langsung pada memori dan pengalaman siswa terhadap kearifan lokal di sekitar mereka.
Menurut Mochammad Yasir selaku ketua tim pengabdian, banyak siswa kesulitan memahami IPA karena hanya berfokus pada hafalan. Pihaknya ingin mengubah paradigma tersebut dengan menghubungkan teori sains ke dalam konteks budaya dan lingkungan Madura.
“Kami ingin menghadirkan pembelajaran IPA yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi benar-benar tertanam dalam memori jangka panjang siswa melalui asosiasi dengan pengalaman nyata dan budaya lokal,” ujar Mochammad Yasir.
Dalam program ini, tim UTM tidak hanya melatih para guru untuk merancang metode ajar yang inovatif, tetapi juga mengajak siswa terlibat langsung dalam proyek penelitian mini. Para guru dibekali strategi mengajar berbasis deep learning, sementara siswa didorong untuk melakukan eksplorasi dan refleksi terhadap fenomena sains di lingkungan mereka.
Kepala SMPN 1 Banyuates, Drs. Mohamad Sidik, M.Pd., menyambut baik terobosan ini. Menurutnya, program tersebut berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus memberikan wawasan baru bagi para pengajar.
“Program ini sangat bermanfaat, karena guru memperoleh strategi baru dalam mengajar, dan siswa lebih termotivasi dalam belajar IPA. Kami berharap pendekatan ini bisa menjadi model bagi sekolah lain di Madura,” ungkapnya.
Hasil dari kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep IPA siswa. Siswa yang terlibat dalam pembelajaran berbasis potensi lokal lebih mampu mengingat, menghubungkan, dan menerapkan pengetahuan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Selain itu, guru memperoleh keterampilan baru dalam mengelola kelas dengan pendekatan deep learning.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian merencanakan penyusunan modul pembelajaran IPA berbasis etnosains lokal Banyuates, sehingga dapat digunakan secara berkelanjutan oleh guru-guru di sekolah.
Dengan keberhasilan ini, SMPN 1 Banyuates berpotensi menjadi sekolah rujukan dalam penerapan pembelajaran IPA berbasis kearifan lokal dengan pendekatan deep learning, tidak hanya di Kabupaten Sampang tetapi juga di tingkat provinsi.
Author: Mochammad Yasir
Editor: Ukhtul Izza Nurfadila