MALANG, ALINEAZONA – Di tengah arus digitalisasi informasi yang serba cepat, sains kini ditantang untuk hadir dengan wajah yang lebih komunikatif. Tantangan itu berhasil dijawab oleh Farian Dito Irwanda, peneliti muda dari Komunitas Peneliti Alinea (KOPI ALINEA), yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 1 Nasional dalam ajang Lomba Infografis SKV X EKSITU 2025 yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (SKV BEM FKH UB).
Kompetisi yang diikuti oleh berbagai universitas top Indonesia termasuk Universitas Brawijaya, Universitas Padjadjaran, PKN STAN, dan Universitas Airlangga mengusung tema “From Ocean Freedom to Concrete Walls: The Journey of Dolphins in Captivity.” Tema tersebut menyoroti dinamika etika dan ekologi di balik praktik penangkaran lumba-lumba, sekaligus mengajak generasi muda untuk merefleksikan hubungan manusia dengan kehidupan laut dari perspektif ilmiah dan moral.
Dalam karyanya, Dito menampilkan perpaduan riset data, narasi ekologis, dan kekuatan visual yang impresif. Infografis tersebut tidak hanya menampilkan statistik dan fakta ilmiah, tetapi juga menyusun alur emosional yang menggambarkan transformasi tragis dari kebebasan alam ke dinding penangkaran.
“Untuk menjadi pemenang, kuncinya bukan sekadar desain yang indah, tetapi pemahaman mendalam terhadap isu yang diangkat. Saya menelusuri data ilmiah mengenai perilaku sosial lumba-lumba, efek stres dalam penangkaran, hingga kebijakan konservasi yang berlaku. Lalu saya mencoba menerjemahkan semuanya ke dalam bahasa visual yang mudah dipahami masyarakat,” ujar Farian Dito Irwanda, usai diumumkan sebagai pemenang lomba.
Kompetisi ini menjadi wadah kolaborasi antara komunikasi ilmiah dan kreativitas digital. Prosesnya sederhana mulai dari registrasi, pengiriman karya, hingga pengumuman namun bobot tematiknya menuntut kedalaman analisis dan kepekaan sosial. Menurut Dito, ajang ini “worth it” karena sistem penilaiannya transparan dan berbasis buku panduan yang jelas.
Keberhasilan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Thoriqi Firdaus, selaku Founder KOPI ALINEA . Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan filosofi dasar komunitas: riset bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk kepedulian sosial yang disampaikan dengan integritas dan estetika.
“Prestasi Dito menunjukkan bahwa riset bisa hidup di ruang publik jika dikemas dengan empati dan makna. Kami di KOPI ALINEA percaya bahwa komunikasi ilmiah yang baik bukan hanya tentang data, tapi juga tentang kesadaran dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan. Melalui karya seperti ini, sains tidak lagi terpisah dari nurani,” tutur Thoriqi Firdaus.
KOPI ALINEA sendiri dikenal sebagai komunitas riset lintas disiplin yang berfokus pada pengembangan berpikir kritis, literasi sains, dan integritas akademik. Komunitas ini mendorong mahasiswa untuk menjembatani dunia akademik dengan persoalan nyata masyarakat.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa generasi muda peneliti Indonesia mampu menghadirkan sains dalam bentuk yang inspiratif dan membumi. Dalam era ketika disinformasi mudah menyebar, karya seperti milik Dito menjadi penanda bahwa pengetahuan yang disampaikan dengan keindahan visual dan kedalaman empati masih punya tempat yang penting dalam membangun kesadaran publik.
Editor: Ainunnuril. A
