Oleh: Thoriqi Firdaus
Tayangan XPOSE Trans7 yang menampilkan narasi pesantren dan para kiai bukan hanya kesalahan paham redaksional, tetapi luka batin yang mendalam. Sosok KH. Anwar Manshur yaitu seorang figur dari Pondok Pesantren Lirboyo yang dihormati ribuan santri dicatut dalam tayangan dengan visual insinuatif, seolah beliau menikmati kemewahan dan amplop dari umat. Ini bukan hanya kelalaian jurnalistik, tetapi tuduhan moral terhadap seorang ulama yang sepanjang hidupnya berkhidmah untuk ilmu dan umat.
Media sering kali melihat pesantren dari permukaan: sarung, sandal, dan mobil kiai. Mereka lupa bahwa di balik itu ada sistem sosial dan spiritual yang kokoh. Banyak kiai memang hidup dengan layak, namun yang tidak diketahui oleh media bahwa sebagian memiliki usaha pribadi seperti berdagang, bertani, dan mengelola lembaga pendidikan yang keuntungannya justru digunakan untuk menopang keberlangsungan pesantren: membiayai pendidikan santri, membayar honor guru, dan membantu masyarakat sekitar. Fakta-fakta seperti ini jarang tersorot, karena media cenderung mencari hal-hal yang sensasional dan mudah dijual secara visual.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Ketika realitas sosial disederhanakan, yang muncul bukan lagi kebenaran, tapi persepsi. Kamera televisi memang bisa merekam gambar, tetapi tidak mampu menangkap niat dan keikhlasan. Narasi media yang dibangun di atas sensasi justru mengaburkan realitas moral masyarakat pesantren. Sayangnya, sebagian media masih memandang simbol lahiriah sebagai ukuran moral. Padahal dalam tradisi pesantren, ukuran kemuliaan seseorang bukan pada apa yang ia punya, tapi pada seberapa besar ia berbuat untuk orang lain.
Dalam kajian cognitive science, manusia memiliki kecenderungan menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi narasi yang mudah dicerna. Mekanisme ini disebut cognitive bias, dimana otak bekerja dengan cara menghemat energi berpikir, memilih gambaran yang emosional ketimbang analisis rasional. Tayangan semacam itu akan memicu confirmation bias, yaitu penonton akan cenderung mempercayai hal yang sesuai dengan prasangka media tentang kiai atau pesantren, dan mengabaikan konteks sosial di baliknya. Akibatnya, opini publik terbentuk bukan dari data, tapi dari emosi dan potongan persepsi yang dibentuk media.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya defisit empati kognitif (cognitive empathy deficit) di ruang redaksi. Empati kognitif adalah kemampuan untuk memahami cara berpikir, nilai, dan pengalaman orang lain sebelum menilai mereka. Ketika media gagal menempatkan diri dalam perspektif masyarakat pesantren, yang muncul bukan lagi liputan, tapi penghakiman. Padahal, dalam tradisi santri, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab dianggap berbahaya karena bisa menimbulkan kesombongan dan penyalahgunaan pengetahuan. Albert Einstein seorang fisikawan dan filsuf sains juga mengungkapkan “Science without religion is lame, religion without science is blind”. Namun Ironisnya, prinsip yang seharusnya dijunjung dalam dunia jurnalistik khususnya Trans7 yaitu empati, kejujuran, dan tanggung jawab moral, malah tergerus oleh logika rating dan kecepatan tayang.
Lebih menyedihkan lagi, dalam tayangan itu muncul kalimat-kalimat bernada sarkastik dan potongan visual yang merendahkan, seolah menggiring opini bahwa kiai hidup mewah di atas penderitaan umat. Padahal, tradisi pesantren justru menanamkan nilai pengabdian tanpa pamrih. Banyak kiai menanggung hidup santri yatim, mewakafkan tanahnya untuk pendidikan, bahkan tak jarang hidup sederhana di tengah murid-muridnya. Nilai-nilai luhur ini tidak tampak di layar kaca karena media modern sering kali sibuk mencari kontroversi daripada kebenaran.
Tayangan Trans7 itu bukan hanya menyinggung, tapi juga memperlihatkan bagaimana media modern sering gagal membaca struktur nilai masyarakat. Pemberian amplop kepada kiai, misalnya, ditafsir sebagai pamrih atau simbol kemewahan. Padahal, dalam tradisi Islam Nusantara, hal itu merupakan bentuk penghormatan dan tabarruk, ungkapan cinta dan rasa syukur terhadap guru yang telah mendidik dengan ilmu dan keikhlasan. Mengubah makna luhur itu menjadi tuduhan pamrih adalah bentuk kesalahan budaya sekaligus kekeliruan ilmiah. Orang yang tidak memahami konteks sosial pesantren akan mudah menghakimi karena ia menilai hanya dari permukaan, bukan dari makna. Ironisnya, inilah yang justru tampak dalam cara sebagian media bekerja: cerdas, tapi tak beradab; cepat, tapi dangkal; berani bicara, tapi lupa mendengar.
Dalam konteks sosial-ilmiah, pesantren sesungguhnya adalah sistem pendidikan yang sangat kompleks: menggabungkan ilmu, moralitas, spiritualitas, dan ekonomi sosial dalam satu ekosistem yang hidup. Ia bukan sekadar tempat belajar agama, tapi wadah pembentukan karakter sosial bangsa. Namun media sering memandangnya dengan kacamata urban dan modernitas sempit. Tradisi kesederhanaan dan penghormatan dianggap kuno, padahal di situlah letak kekuatan moral bangsa ini bertahan. Ketika media gagal memahami konteks sosial ini, mereka kehilangan kemampuan ilmiah untuk membaca realitas secara utuh.
Bagi para santri, luka yang muncul dari tayangan itu bukan hanya karena kiai dihina, tapi karena nilai-nilai luhur pesantren direduksi. Di pesantren, kami diajarkan untuk menghormati ilmu, memuliakan guru, dan menjaga niat agar ilmu membawa berkah. “Adab sebelum ilmu” bukan sekadar slogan, melainkan fondasi berpikir. Ilmu yang tidak dilandasi adab akan kehilangan arah, sama seperti media yang kehilangan nurani ketika lupa menghormati manusia yang diberitakannya.
Media seharusnya menjadi ruang pembelajaran sosial. Dalam masyarakat yang semakin terpolarisasi, media memiliki peran penting untuk membangun empati publik, bukan justru menanamkan curiga. Liputan tentang pesantren seharusnya menjadi ruang untuk mengenalkan kearifan lokal, bukan menegaskan stereotip lama. Jurnalisme sejati bukan tentang siapa yang paling berani mengkritik, tetapi siapa yang paling tulus mencari kebenaran dengan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.
