BALI, ALINEAZONA – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Annuqayah melalui Tim Parikesit Engineering yang terdiri atas Ishaq, Wa’idul Hasan, dan Efendi Pratama Putra, mahasiswa program studi Teknik Sipil dengan dosen pembimbing Ir. Aditya Dandy Firatama, S.Tr.T., M.T., M.M. Tim ini berhasil menorehkan pencapaian luar biasa dalam ajang Rancang Bangun Atap Nasional 2025 yang merupakan bagian dari Politeknik Negeri Bali Engineering Scientific Competition (PESC), sebuah kompetisi akademik bergengsi yang diikuti oleh berbagai universitas ternama di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS), serta Politeknik Negeri Pontianak.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali ini menjadi wadah bagi mahasiswa teknik sipil di seluruh Indonesia untuk mengasah kemampuan mereka dalam bidang perancangan struktur, manajemen proyek, serta penerapan inovasi energi berkelanjutan. Pada tahun 2025, tema besar kompetisi adalah “Implementasi Desain Rancang Bangun Atap Bangunan Guna Mengoptimalkan Penggunaan Energi untuk Menciptakan Efisiensi Konstruksi yang Pintar dan Ramah Lingkungan.”
Dalam kompetisi tersebut, Tim Parikesit Engineering mempersembahkan karya berjudul “Gili Iyang Ubhara”, sebuah rancangan atap bangunan yang memadukan kearifan lokal Sumenep dengan inovasi teknologi hijau. Nama tersebut berasal dari dua kata berbahasa Madura: Gili Iyang nama pulau di Kabupaten Sumenep yang dikenal memiliki kualitas oksigen terbaik nomor dua di dunia dan Ubhara yang berarti cahaya atau energi matahari. Kombinasi kedua makna ini melambangkan harmoni antara budaya lokal dan inovasi konstruksi modern berbasis energi surya.
Desain atap “Gili Iyang Ubhara” mengusung konsep gabungan antara struktur joglo dan pelana, yang tidak hanya menonjolkan nilai estetika arsitektur Nusantara, tetapi juga menghadirkan efisiensi struktural dan fungsional. Dalam satu desain, tim ini menggunakan enam kuda-kuda utama, yang memungkinkan distribusi beban atap secara optimal tanpa mengorbankan stabilitas maupun nilai artistik.
Menurut Risky Andayani Rosediana, S.Tr.T., M.Eng., dosen pembimbing konstruksi Universitas Annuqayah yang merupakan lulusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) , desain ini menunjukkan kedalaman pemahaman mahasiswa terhadap struktur dan budaya.
“Ide yang mereka keluarkan inovatif dan juga mengangkat budaya lokal secara konstruksi. Konstruksi atapnya memang rumit, tetapi mereka bisa bekerja cepat dan efektif. Mereka bahkan melakukan trial dan konsultasi langsung dengan tukang, serta memanfaatkan pendanaan dari kampus agar desainnya matang dan siap dipresentasikan. Yang menarik, metode pelaksanaan mereka unggul dan bisa menjadi model bagi mahasiswa lain,” ujar Risky.
Kompetisi Rancang Bangun Atap Nasional berlangsung dalam tiga tahap utama: seleksi proposal, pembuatan prototipe, dan presentasi hasil. Peserta diberi waktu hanya 10 hari untuk mengerjakan rancangan sejak soal lomba diberikan. Dari puluhan tim peserta, hanya tiga besar yang dipilih untuk tahap final di Bali.
Pada tahap final, setiap tim diberi waktu 4 jam untuk membuat prototipe atap sesuai rancangan yang telah diajukan, kemudian 45 menit untuk presentasi dan tanya jawab di hadapan dewan juri. Namun, Tim Parikesit Engineering berhasil mencatat rekor luar biasa dengan menyelesaikan prototipe hanya dalam waktu 1 jam 36 menit waktu tercepat di antara semua peserta.
“Selain hasil konstruksi yang bagus, kerapian, kecepatan pengerjaan, dan kemampuan tim dalam mengaplikasikan teori menjadi praktik juga sangat diapresiasi oleh para juri,” jelas Ir. Aditya Dandy Firatama, S.Tr.T., M.T., M.M., dosen pembimbing utama sekaligus pendamping tim selama kompetisi. “Mereka mampu menyaingi politeknik besar seperti UI, UGM, dan Politeknik Negeri Pontianak. Bahkan juri dari PT Cahaya Benteng Emas memuji hasil kerja tim ini karena efisien dan presisi.”
Lebih lanjut, Dandy menuturkan bahwa perjuangan tim tidak mudah. Setelah pengumuman lolos seleksi, mereka menjalani latihan intensif selama lima hari penuh, dari pukul 09.00 pagi hingga 22.00 malam, untuk menyempurnakan teknik dan kecepatan pembuatan model atap. Tidak hanya mahasiswa, sang dosen pembimbing pun menempuh perjalanan panjang untuk mendampingi mereka secara langsung.
“Saya berangkat dari Pasongsongan naik pick-up ke terminal Sumenep, lalu naik bus selama 22 jam menuju Bali. Pendampingan langsung memang penting, karena kuncinya ada di kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Kita harus ekstra, memastikan semua aspek Term of Reference (TOR) terpenuhi dan proposal memenuhi standar penyelenggara,” tambahnya.
Salah satu keunggulan utama tim ini terletak pada metode pelaksanaan proyek yang mereka rancang. Dengan mengombinasikan prinsip konstruksi cepat (fast construction method) dan konsep efisiensi energi, desain “Gili Iyang Ubhara” tidak hanya menjadi karya kompetisi, tetapi juga memiliki potensi implementasi nyata bagi masyarakat.
“Desain yang mereka hasilkan tidak hanya berhenti di lomba ini. Konsepnya bisa diterapkan di masyarakat sekitar, khususnya di daerah yang ingin menggabungkan nilai budaya dengan efisiensi konstruksi,” ungkap Risky Andayani Rosediana, S.Tr.T., M.Eng. “Mereka berhasil menciptakan metode pelaksanaan yang cepat dan efektif itu bisa diwariskan kepada generasi mahasiswa berikutnya.”
Karya ini juga merepresentasikan translasi pengetahuan dari ruang kelas ke praktik nyata. Dalam setiap tahap, mahasiswa mengintegrasikan teori perencanaan struktur, manajemen proyek, hingga efisiensi energi ke dalam rancangan yang komprehensif. Desain “Gili Iyang Ubhara” mencerminkan perpaduan antara kekuatan akademik, kearifan lokal, dan semangat inovasi.
Editor: Thoriqi F
