BANGKALAN, ALINEAZONA – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) menggelar kegiatan praktikum pembelajaran sains berbasis kearifan lokal Madura di Taman Kanak-Kanak (TK) Anugrah Kamal, Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan, mulai 1 hingga 26 September, dan menjadi wujud nyata sinergi antara dunia kampus dan lembaga pendidikan anak usia dini.
Kegiatan ini diikuti oleh empat mahasiswa, yaitu Putri Cahya Oktaviyana dan Alvira Eka Rahel Guivara dari Program Studi Pendidikan IPA, serta Inggrit Anggraeny dan Chelci Diansari dari Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD). Melalui kegiatan ini, para mahasiswa mengajak anak-anak mengenal konsep sains dan alam sekitar dengan cara yang menyenangkan serta mudah dipahami.
Selama pelaksanaan, mahasiswa memperkenalkan lima eksperimen sains sederhana, yaitu pembuatan sabun, pembuatan popcorn, eksperimen telur cuka, pembuatan hand sanitizer alami, dan pembuatan pengharum ruangan dari bahan alami. Setiap kegiatan dikemas dengan pendekatan learning by playing atau bermain sambil belajar, agar anak-anak dapat memahami proses ilmiah secara ringan dan interaktif.
Eksperimen tersebut berhasil menarik antusiasme anak-anak. Misalnya, saat membuat popcorn, mereka dengan penuh semangat mengamati bagaimana biji jagung berubah bentuk ketika terkena panas. Pada eksperimen telur cuka, anak-anak tampak kagum melihat kulit telur yang semula keras menjadi lentur setelah direndam dalam larutan cuka.
Kegiatan lain seperti pembuatan sabun dan hand sanitizer alami menjadi sarana untuk menanamkan pentingnya menjaga kebersihan diri, sementara pembuatan pengharum ruangan berbahan tumbuhan lokal memperkenalkan manfaat flora sekitar sebagai bagian dari kearifan lokal Madura. Semua bahan yang digunakan aman dan mudah ditemukan di lingkungan rumah tangga.
Dosen pembimbing kegiatan, Bapak Fajar, selaku dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) UTM, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penerapan langsung teori pembelajaran anak usia dini di lapangan. “Anak usia dini belajar paling efektif melalui pengalaman konkret. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar mengenalkan sains secara kontekstual dan menyenangkan, sambil melatih kemampuan pedagogik serta empati terhadap dunia anak,” jelasnya.
Sementara itu, Bapak Dwi Bagus Rendy Astid Putera, dosen Pendidikan IPA UTM yang turut membimbing kegiatan tersebut, menambahkan bahwa eksperimen sains berbasis bahan lokal tidak hanya memperkuat pemahaman anak terhadap konsep ilmiah, tetapi juga menanamkan nilai kearifan ekologis. “Kami ingin menunjukkan bahwa sains tidak harus rumit dan mahal. Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti cuka, tumbuhan, dan minyak alami, anak-anak belajar prinsip ilmiah sekaligus menghargai potensi lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
Pihak sekolah juga memberikan apresiasi atas kegiatan ini. Menurut salah satu guru TK, Ibu Dila, kegiatan tersebut tidak hanya memberi pengalaman baru bagi anak-anak, tetapi juga menginspirasi guru untuk berinovasi. “Anak-anak sangat senang, mereka belajar tanpa merasa sedang belajar. Kegiatan ini membuka wawasan kami tentang cara kreatif mengenalkan sains dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Melalui kegiatan praktikum ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan pedagogik, komunikasi, dan kreativitas, tetapi juga berperan aktif dalam menumbuhkan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga PAUD guna meningkatkan mutu pembelajaran anak usia dini di Madura.
Editor: Lisda Yasin B
