BANGKALAN, ALINEAZONA – Di tengah keterbatasan lahan hijau, kreativitas justru tumbuh subur di SMP Negeri 1 Bangkalan. Melalui kegiatan “Pembuatan Instalasi Hidroponik dan Media Edukasi Digital sebagai Inovasi Pembelajaran IPA Berbasis Proyek,” para siswa kini belajar sains tidak hanya dari teori, tetapi juga dari praktik nyata yang bisa mereka sentuh, rawat, dan panen sendiri.
Inisiatif inspiratif ini digagas oleh Tim Pengabdian Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura (UTM), yang beranggotakan Revalyna Eka Putri, Al Qurnisah, Kania Laura Nur Aida, Novita Sari, dan Febilia Fitriyani, dengan bimbingan langsung dari Dr. Laila Khamsatul Muharrami, S.Si., M.Si. Kegiatan yang berlangsung sejak 25 Agustus hingga 29 November itu dirancang untuk menjawab kebutuhan pembelajaran kontekstual dan menumbuhkan kepedulian lingkungan di sekolah.
Segalanya berawal dari survei kebutuhan dan wawancara dengan pihak sekolah. Dari proses tersebut, tim pengabdian ini menemukan bahwa keterbatasan lahan menjadikan pembelajaran IPA berbasis proyek sulit dilaksanakan secara optimal. Maka, lahirlah ide untuk menghadirkan instalasi hidroponik sederhana, solusi cerdas bercocok tanam tanpa tanah yang efisien dan ramah lingkungan.
Dengan semangat kolaboratif, tim pengabdian menyiapkan berbagai bahan seperti bak hidroponik, net pot, botol bekas, sumbu, nutrisi AB mix, gunting, dan rockwool. Setelah semua siap, kegiatan dimulai dari penyemaian benih hingga pembuatan instalasi sistem wick yang memanfaatkan botol bekas sebagai wadah tanam.
“Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan selama kegiatan ini,” tutur Revalyna Eka Putri, salah satu anggota tim. “Kami belajar metode tanam menggunakan media air, dan hasil panennya dimanfaatkan langsung untuk kegiatan memasak bersama. Siswa benar-benar bisa merasakan manfaat nyata dari hasil kerja mereka.”
Bagi para siswa SMPN 1 Bangkalan, hidroponik menjadi media belajar yang menghidupkan sains. Mereka memahami konsep fotosintesis, pertumbuhan tanaman, dan keseimbangan ekosistem secara langsung dari kegiatan sehari-hari.
Al Qurnisah menuturkan, “Saya belajar cara bercocok tanam hidroponik dan melihat hasilnya secara langsung. Kegiatan ini sangat bermanfaat karena membuat kami dan siswa-siswi sekolah ini mengenal inovasi pertanian modern.”
Sementara itu, Kania Laura Nur Aida merasakan kebanggaan tersendiri bisa berkontribusi dalam pembelajaran di sekolah. “Kegiatan ini memberi saya pengalaman berharga dalam mengintegrasikan ilmu IPA dengan praktik nyata. Antusiasme siswa luar biasa. Mereka belajar sains dengan cara yang menyenangkan dan aplikatif,” ujarnya.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga mendorong kesadaran lingkungan. Novita Sari menambahkan, “Sistem hidroponik dengan botol bekas menjadi contoh penerapan teknologi ramah lingkungan. Siswa bisa melihat bagaimana limbah plastik bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.”
Selain kegiatan menanam, tim pengabdian juga menghadirkan inovasi digital agar pembelajaran lebih menarik dan relevan dengan zaman. Mereka membuat poster edukatif dengan ilustrasi tahapan hidroponik serta papan identitas tanaman yang dilengkapi QR Code berisi informasi ilmiah tentang klasifikasi dan karakteristik setiap tanaman.
“Siswa tidak hanya belajar konsep ilmiah tetapi juga menunjukkan sikap tanggung jawab, kerjasama serta kepedulian lingkungan. Pengabdian hidroponik ini dapat dijadikan media pembelajaran kontekstual yang efektif dalam mengaitkan teori IPA dengan kehidupan nyata serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Saya berharap kegiatan hidroponik dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah.,” jelas Febilia Fitriyani, yang ikut merancang konten digital tersebut.
Pendekatan ini menjadikan proyek hidroponik bukan sekadar kegiatan tanam, tetapi juga laboratorium hidup yang menggabungkan ilmu, teknologi, dan kreativitas. Keberhasilan program ini juga tak lepas dari dukungan pihak sekolah dan semangat para siswa yang terlibat aktif dalam setiap tahap. Dari penyemaian hingga panen, kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bersama antara mahasiswa, guru, dan siswa.
Kini, instalasi hidroponik di SMPN 1 Bangkalan berdiri bukan hanya sebagai ornamen hijau di halaman sekolah, tetapi sebagai simbol pendidikan yang hidup. Dari botol bekas yang disulap menjadi wadah tanam hingga QR Code yang membuka jendela ilmu digital, semua menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan bisa berakar dari hal sederhana.
Program pengabdian ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains dapat menyatu dengan aksi nyata dan kepedulian terhadap lingkungan. Di tangan mahasiswa muda seperti Revalyna, Al Qurnisah, Kania, Novita, dan Febilia, ilmu pengetahuan tumbuh tidak hanya di ruang kelas, tapi juga di hati mereka yang belajar untuk menjaga bumi.
Karena pada akhirnya, seperti tanaman yang tumbuh dari tetes air, pengetahuan pun akan terus mengalir, menyuburkan generasi yang peduli, berpikir kritis, dan mencintai lingkungan.
Editor: Farah L.
