BANGKALAN, ALINEAZONA – Mahasiswa Asistensi Mengajar (ASMEN) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menghadirkan kegiatan edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Kali ini, empat mahasiswa yakni Mohammad Shony Zainurrohman, Adira Ragil Mayda, Hanim Salsabila, dan Laili Isnaini mengajak siswa SMPN 1 Kwanyar belajar mengolah sampah organik menjadi pupuk cair melalui pembuatan komposter sederhana. Dengan pendampingan guru IPA, Reva Rensila Lasha, S.Pd., Gr., M.Pd., serta dosen pembimbing Amien Rais, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan ini berjalan penuh antusias. Suasana kelas terasa berbeda dari biasanya, siswa yang awalnya hanya mengenal komposter sebatas istilah dalam buku kini memiliki kesempatan untuk menyentuh langsung, melihat prosesnya, dan memahami manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa memulai dengan menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah organik di tengah meningkatnya volume sampah rumah tangga. Siswa diperkenalkan pada komposter sebagai wadah yang mampu mengubah sisa makanan, daun kering, dan limbah organik lainnya menjadi pupuk cair lewat proses alami yang melibatkan mikroorganisme.
Penjelasan dibuat sederhana agar mudah dipahami, menekankan bahwa pembuatan komposter tidak membutuhkan peralatan mahal dan bisa dilakukan di rumah menggunakan bahan yang mudah ditemukan. Di saat banyak orang masih membuang sampah organik begitu saja, siswa diajak untuk melihat peluang bahwa limbah dapur sebenarnya dapat menjadi sumber nutrisi baru bagi tanaman.
Sesi praktik menjadi bagian yang paling ditunggu siswa. Mereka mengenali alat dan bahan yang digunakan, mulai dari galon bekas yang dibelah dua, solder untuk membuat lubang ventilasi, sekop kecil, tanah atau kompos, hingga sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran. Selain itu, Mahasiswa juga menjelaskan fungsi penting dari ventilasi dan lapisan tanah sebagai media awal penguraian. Tambahan air cucian beras atau EM4 diperkenalkan sebagai pengaktif alami yang membantu mempercepat fermentasi, membuat komposter semakin efektif bekerja.
Saat proses pembuatan dimulai, mahasiswa memandu siswa langkah demi langkah untuk melubangi galon secara merata agar udara bisa masuk, menyusun lapisan tanah dan sampah organik, hingga menempatkan komposter di area teduh agar proses penguraian berlangsung maksimal. Mahasiswa juga memberi penjelasan bahwa komposter perlu diaduk sesekali untuk menjaga sirkulasi udara, dan bahwa hasil pupuk cair dapat dipanen dalam satu hingga dua minggu. Pupuk yang dihasilkan harus diencerkan dengan perbandingan 1:10 sebelum digunakan agar tidak merusak akar tanaman. Penjelasan sederhana namun detail ini membuat siswa semakin memahami cara kerja komposter, sekaligus tertarik mencobanya di rumah bersama keluarga.
Respons hangat datang dari para siswa yang merasakan langsung manfaat kegiatan ini. Adira Ragil Mayda mengungkapkan kebanggaannya melihat siswa bisa memahami proses pengomposan secara langsung. “Kegiatan seperti ini nggak hanya menambah pengetahuan, tapi juga bikin siswa lebih peduli sama lingkungan,” ujarnya.
Laili Isnaini turut bercerita bahwa kompos buatan sendiri sangat bermanfaat untuk greenhouse sekolah, membuat tanah lebih gembur dan tanaman tumbuh lebih sehat. Menurutnya, “ada kepuasan tersendiri ketika melihat bahan organik yang semula dianggap tidak berguna berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.”
Sementara itu, Hanim Salsabila menilai pembuatan komposter sebagai langkah sederhana namun berdampak besar dalam mengurangi sampah organik. “Selain murah, komposter bisa digunakan dalam jangka panjang dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekolah” tuturnya.
Guru dari SMPN 1 Kwanyar yakni Ibu Reva Rensila Lasha, S.Pd., Gr., M.Pd juga menuturkan “kegiatan membuat komposter sangat positif dan edukatif. Kegiatan ini merupakan sarana pembelajaran yang autentik dan berbasis proyek yang mengintegrasikan berbagai konsep penting dalam ilmu pengetahuan yang berfokus pada aplikasi nyata dari sains dalam kehidupan sehari-hari dan penanaman kesadaran lingkungan”, ungkapnya.
Program yang dijalankan mahasiswa ASMEN UTM ini mendapat apresiasi positif dari pihak sekolah karena tidak hanya mengajarkan teori, tetapi langsung mengajak siswa mempraktikkan solusi sederhana untuk masalah lingkungan yang semakin mendesak. Mahasiswa berharap kegiatan seperti ini menjadi awal perubahan, membangun kesadaran baru bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dengan semangat kolaboratif antara mahasiswa, guru, dan siswa, kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Madura untuk semakin mandiri dalam mengelola sampah dan menciptakan lingkungan belajar yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.
