BANGKALAN, ALINEAZONA – UPTD SMP Negeri 2 Bangkalan kembali menghadirkan inovasi pembelajaran melalui kegiatan outing class ke Dairyland Farm Theme Park Prigen pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari pembelajaran bioteknologi berbasis projek, khususnya proyek pembuatan yogurt sederhana yang telah dilakukan siswa di sekolah. Jika sebelumnya siswa hanya belajar lewat praktik laboratorium, kali ini mereka diajak menyaksikan secara langsung bagaimana dunia peternakan sapi perah dan industri pengolahan susu bekerja.
Kegiatan ini diikuti oleh 43 siswa, didampingi oleh 6 guru pembina dan 8 Mahasiswa Asistensi Mengajar (ASMEN) dari Universitas Trunojoyo Madura. Guru-guru pendamping pada kegiatan ini meliputi Indah Solichatin, M.Pd, Crystie Liwidia Yusman, S.Pd, Yenny Sufiantini Anwar, S.Si, Eka Yulistyawati, S.Si, Muhammad Haris, S.Pd, dan Abd. Wahid Mauludi Gowi, S.Si. Kehadiran para guru ini memastikan bahwa seluruh kegiatan berjalan aman, tertata, dan tetap berada dalam koridor pembelajaran yang bermakna.
Dari sisi pendamping mahasiswa, kegiatan ini melibatkan lima Mahasiswa ASMEN Pendidikan IPA yakni Sinta Nurriyah K.W, R. Maharani Yasmin Arova, Ega Indah Sevtelia, Friska Lusiana, dan Warida Firdausy. Selain itu, turut mendampingi tiga Mahasiswa ASMEN dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu Khusnul Hotimah, Nikmatul Luailik, dan Ika Nurul Maulida R. Kehadiran mereka menjadi penghubung penting antara siswa dengan materi pembelajaran, sekaligus membantu dalam pengawasan, dokumentasi, dan pengelolaan kegiatan lapangan.
Outing class ini tidak sekadar jalan-jalan. Sejak bus bergerak dari Bangkalan, siswa langsung diberi Lembar Kerja Petualangan Edukatif yang berisi berbagai misi observasi. Pada bagian pertama, siswa diminta mengamati lingkungan, mempelajari fakta tentang Jembatan Suramadu, menyebutkan kota-kota yang mereka lewati, hingga memperkirakan jarak dan waktu tempuh menuju Prigen.
Pembelajaran ini menjadi cara efektif untuk menghubungkan mata pelajaran IPA dengan konteks geografi, ekonomi lokal, hingga transportasi. Siswa belajar bahwa perjalanan yang mereka tempuh bukan sekadar rute panjang, tetapi penuh dengan informasi tentang ekosistem, aktivitas manusia, perubahan iklim mikro, dan dinamika wilayah.
Para mahasiswa ASMEN dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia turut membantu siswa memahami perintah LKPD dan memastikan diskusi berjalan aktif. Meski bukan dari rumpun IPA, mereka memberikan kontribusi penting terutama dalam literasi, kemampuan bertanya, dan pendampingan analisis naratif.
Setibanya di Dairyland Prigen, antusiasme siswa semakin terlihat. Mereka langsung diarahkan untuk memasuki area peternakan, museum susu, hingga zona wisata edukasi yang dirancang khusus untuk anak dan remaja.
Di area peternakan, siswa mengamati langsung hewan penghasil susu, perilaku sapi perah, proses pemerahan, dan bagaimana peternak menjaga kualitas susu. Sementara di Milk Museum, mereka mempelajari proses pengolahan susu dari hulu ke hilir, mulai dari pasteurisasi, UHT, sterilisasi, hingga berbagai produk turunan seperti keju, mentega, yogurt, dan es krim.
Sinta Nurriyah K.W mengatakan bahwa siswa menjadi jauh lebih aktif ketika melihat bukti nyata.
“Ketika praktik di sekolah, mereka masih banyak bertanya apakah proses fermentasi itu benar-benar bekerja. Tapi di Dairyland, mereka melihat sendiri bagaimana susu berubah menjadi berbagai produk, termasuk yogurt. Pengalaman seperti ini membuat konsep bioteknologi terasa lebih nyata,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan penguatan dari pembelajaran bioteknologi di sekolah. Sebelumnya, siswa telah dikenalkan pada pembuatan yogurt menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus, serta melakukan praktik fermentasi sederhana di kelas. Outing class ini memperluas pemahaman mereka karena proses yang mereka lihat di Dairyland merupakan teknologi skala nyata yang dilakukan industri.
Rangkaian kegiatan outing class ini disusun secara bertahap agar siswa dapat memahami bioteknologi secara utuh, mulai dari teori hingga praktik langsung. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai proses pembuatan yogurt menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus. Pada tahap ini, siswa diperkenalkan pada konsep dasar fermentasi, peran bakteri baik, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan produksi yogurt.
Setelah mendapatkan gambaran awal, kegiatan berlanjut pada demonstrasi pembuatan yogurt secara langsung. Para pendamping menunjukkan setiap tahap dengan rinci, mulai dari pemanasan susu, pengaturan suhu, hingga penambahan starter bakteri. Melalui sesi ini, siswa dapat melihat bagaimana teori yang mereka pelajari benar-benar diterapkan dalam proses nyata.
Tahap berikutnya menjadi bagian yang paling ditunggu siswa, yaitu praktik pembuatan yogurt secara mandiri. Mereka dibagi dalam kelompok kecil dan bekerja sama mengikuti prosedur yang telah dipelajari. Setiap kelompok mencoba mengatur waktu, suhu, dan kebersihan alat agar produk yang dihasilkan berhasil. Suasana penuh antusias terlihat ketika mereka berdiskusi, mencoba, hingga mengevaluasi hasil fermentasi kelompok masing-masing.
R. Maharani Yasmin Arova menilai kegiatan ini meningkatkan keberanian siswa dalam berdiskusi.
“Saat mereka membuat yogurt per kelompok, banyak yang mulai berdebat kecil soal konsistensi, suhu, dan waktu fermentasi. Ini bagus, tanda bahwa mereka mulai berpikir ilmiah,” ungkapnya.
Setelah itu, siswa melanjutkan pembelajaran melalui observasi lapangan di Dairyland Prigen. Di area peternakan dan museum susu, mereka melihat langsung bagaimana susu diproduksi, diolah, dan dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Melalui observasi ini, siswa memahami bahwa bioteknologi bukan hanya praktik sederhana di kelas, tetapi juga teknologi yang diterapkan dalam industri pangan modern.
Sebagai penutup, seluruh kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan pengalaman mereka setelah kembali ke sekolah. Presentasi ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyampaikan temuan, mencatat perbedaan antara praktik skala kecil dan skala industri, serta mengaitkan pembelajaran yang mereka peroleh dengan konsep-konsep bioteknologi yang telah dipelajari. Dengan cara ini, seluruh rangkaian aktivitas outing class tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga memperkuat keterampilan analisis, komunikasi, dan kerja sama siswa.
Dengan cara ini, siswa belajar bioteknologi melalui pendekatan spiral: dimulai dari teori, praktik sederhana, observasi industri, hingga pelaporan ilmiah.
Ega Indah Sevtelia, menyoroti betapa pentingnya pembelajaran kontekstual. “IPA tidak hanya bicara teori. Dengan melihat peternakan dan museum susu secara langsung, siswa memahami bahwa sains itu hidup, bergerak, dan dipraktikkan setiap hari,” katanya.
Friska Lusiana juga menambahkan bahwa kegiatan ini mengembangkan kemampuan observasi siswa. “Melalui LKPD, mereka dilatih memperhatikan detail. Bahkan untuk hal sederhana seperti warna kincir angin atau alasan desain di sebuah wahana, mereka bisa menjelaskan dengan penalaran,” terangnya.
Terakhir, Warida Firdausy menyampaikan bahwa outing class ini melatih karakter kerja sama. “Di Moo Moo Play Land, ada banyak wahana yang hanya bisa dimainkan dengan teamwork. Wawasan sains dapat, karakter sosial juga ikut berkembang,” jelasnya.
Tidak hanya belajar sains, siswa juga menjalankan berbagai misi kreatif seperti membuat sketsa poster minum susu, menganalisis warna dan estetika kincir angin raksasa De Windmills, hingga menulis paragraf dongeng berlatar Taman Sakura Dairyland.
Bagian ini menjadi ruang bagi siswa untuk menyatukan sains, seni, dan imajinasi. Aktivitas ini juga menguji kemampuan mereka bekerja dalam kelompok, berpikir kritis, serta menyampaikan ide secara jelas.
Mahasiswa ASMEN PBSI Khusnul Hotimah, Nikmatul Luailik, dan Ika Nurul Maulida R. aktif mendampingi siswa dalam bagian ini, terutama dalam kegiatan literasi dan penulisan kreatif.
Kegiatan outing class Dairyland Prigen menjadi bukti bahwa pembelajaran sains dapat dirancang menyenangkan tanpa kehilangan kedalaman konsep. Perpaduan teori, praktik, observasi lapangan, dan kreativitas membuat pengalaman belajar siswa lebih lengkap.
Dengan dukungan guru pembina, mahasiswa ASMEN, dan fasilitas Dairyland Prigen, siswa SMPN 2 Bangkalan tidak hanya memahami bioteknologi tetapi juga melihat bagaimana sains bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut agar siswa merasakan bahwa sains bukan sesuatu yang sulit dan abstrak, melainkan dekat, menarik, dan penuh pengalaman seru.
