BANGKALAN, ALINEAZONA — Tim mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar sosialisasi tentang dampak pencemaran sampah terhadap ekosistem laut kepada warga Desa Banyusangkah, Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini menjadi bagian dari tugas Mata Kuliah Mitigasi Bencana Alam yang digawangi oleh Wardah Fitriyani, Miftahul Jannah, Irma Indah Yanti, Amelia Tantira Devi, Rahma Sandra Febriana, dan Nur Latifah Ismail.
Sosialisasi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa serta Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangkalan. Laut menjadi nadi kehidupan masyarakat Banyusangkah, mengingat sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai nelayan dan pedagang ikan. Karena itu, kebersihan dan kelestarian laut menjadi faktor kunci keberlangsungan hidup mereka dan perlu dijaga secara bersama-sama.
Sebelum pelaksanaan sosialisasi, tim lebih dulu melakukan wawancara dengan salah satu perwakilan Dinas Perikanan Bangkalan, Bapak Edy. Ia menegaskan bahwa kegiatan edukasi lingkungan seperti ini merupakan bagian penting dari upaya mitigasi bencana berbasis masyarakat.
“Sosialisasi ini sangat menarik karena dapat membuat masyarakat menyadari pentingnya laut bagi mereka sebelum terjadi bencana alam lain. Mitigasi bencana sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup masyarakat Banyusangkah, salah satunya dengan melakukan pemilahan sampah dan mengaktifkan bank sampah 3R,” ujarnya.
Salah satu anggota tim, Miftahul Jannah (Mita), menekankan bahwa masyarakat Banyusangkah memiliki peran strategis dalam menjaga laut karena kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil laut. Pencemaran yang bersumber dari sampah plastik maupun limbah rumah tangga akan berdampak langsung pada keberlanjutan profesi nelayan.
“Kami berharap masyarakat semakin menyadari dampak yang muncul apabila pencemaran laut terus terjadi. Laut adalah sumber daya alam yang wajib kita jaga dan lestarikan,” ungkapnya.
Dalam sesi sosialisasi, tim mengajak warga untuk mulai membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik, tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah, serta mendukung pengaktifan kembali petugas pengangkutan sampah rumah tangga melalui koordinasi dengan kepala desa. Langkah-langkah sederhana ini diharapkan menjadi titik awal perubahan perilaku untuk mengurangi risiko pencemaran laut dan potensi bencana lingkungan di kawasan pesisir.
Anggota tim lainnya, Wardah, menambahkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil di tingkat rumah tangga.
“Dengan kegiatan ini, kami berharap warga Banyusangkah dapat terus menjaga kelestarian dan kebersihan laut, dimulai dari kesadaran diri dalam mengelola sampah,” tuturnya.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Tim Pendidikan IPA UTM berharap terbangun kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah desa, dan instansi terkait dalam upaya pelestarian ekosistem laut di Banyusangkah. Kesadaran kolektif dan konsistensi tindakan bersama diharapkan dapat mewujudkan lingkungan pesisir yang lebih bersih, sehat, dan lestari bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
