Tim Redaksi: Siti Fatima Azzahra
BANGKALAN, ALINEAZONA — Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap limbah tak berguna, kini justru disulap menjadi produk bernilai guna oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA FKIP Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Melalui kegiatan edukasi di dua sekolah berbeda, mahasiswa berhasil mengenalkan inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi sabun padat dan water candle sebagai bagian dari upaya mendukung program eco school, konsep circular economy, serta pencapaian SDGs poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Kegiatan pertama dilaksanakan di SMPN 1 Socah pada 17 April 2026 dengan melibatkan 24 siswa. Edukasi ini mengangkat tema pengolahan minyak jelantah menjadi sabun padat. Mahasiswa yang terlibat antara lain Emeiliya Sufiani, Nia Dwi Ramadhani, dan Siti Ainur Rofidah Alfiyanti.
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diberikan pemahaman tentang dampak negatif pembuangan minyak jelantah ke lingkungan, tetapi juga diajak langsung mempraktikkan proses pengolahannya. Minyak jelantah yang telah dijernihkan kemudian diolah menggunakan bahan sederhana seperti NaOH dan air hingga menjadi sabun padat yang siap digunakan.
Salah satu mahasiswa, Emeiliya Sufiani, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh minimnya pemanfaatan minyak jelantah di masyarakat sekaligus sebagai bentuk penerapan prinsip circular economy. “Selama ini minyak jelantah sering dibuang begitu saja, padahal bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat. Kami ingin siswa sadar bahwa limbah juga punya nilai ekonomi dan lingkungan, sesuai dengan konsep circular economy,” ujarnya.
Respons siswa terlihat sangat antusias. Banyak dari mereka mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa minyak bekas bisa dijadikan sabun. Guru pun memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini karena dinilai selaras dengan program sekolah berbasis lingkungan. “Kegiatan seperti ini sangat bagus karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Mereka jadi lebih peduli terhadap lingkungan,” ungkap salah satu guru di SMPN 1 Socah.
Sementara itu, kegiatan serupa juga dilaksanakan di MTs Negeri Bangkalan pada 15 April 2026 dengan melibatkan 31 siswa. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu Isna Silfiatul Ismawati, Rahma Sandra Febriana, dan Dita Herlina. Mereka mengusung tema pemanfaatan minyak jelantah menjadi water candle atau lilin air.
Melalui edukasi ini, siswa diperkenalkan pada bahaya minyak jelantah serta cara kreatif mengolahnya menjadi produk dekoratif yang ramah lingkungan. Proses pembuatannya melibatkan tahap penyaringan minyak, pencampuran bahan seperti stearic acid, pewarna, dan essential oil, hingga menghasilkan lilin yang estetik dan fungsional.
Salah satu mahasiswa menyampaikan bahwa ide ini muncul dari banyaknya minyak jelantah yang dihasilkan oleh pedagang dan mahasiswa kos, sehingga perlu adanya solusi berbasis prinsip circular economy. “Kami melihat minyak jelantah sangat melimpah di sekitar kita. Daripada menjadi limbah, lebih baik dimanfaatkan menjadi produk seperti water candle yang punya nilai jual dan dapat digunakan kembali,” jelasnya.
Kegiatan ini mendapatkan respons sangat baik dari siswa dan guru. Para siswa mengaku mendapatkan wawasan baru dan merasa tertarik untuk mencoba membuatnya kembali di rumah. Kedua kegiatan edukasi ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan kesadaran lingkungan siswa. Mahasiswa Pendidikan IPA FKIP UTM tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mendorong lahirnya kebiasaan ramah lingkungan sejak dini melalui penerapan konsep circular economy.
Melalui inovasi sederhana namun berdampak, minyak jelantah yang sebelumnya menjadi masalah kini berubah menjadi solusi. Edukasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun generasi yang lebih peduli lingkungan sekaligus kreatif dalam memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bernilai serta berkelanjutan.
